Just another WordPress.com weblog

Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri andayani – di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat dan di belakang memberikan daya kekuatan. Kalimat di atas adalah salah satu pepatah Jawa yang sangat terkenal di dunia pendidikan kita, Indonesia, sejak dipopulerkan oleh Ki Hadjar Dewantara. Pepatah ini bukan hanya berlaku di dunia pendidikan yaitu pada paara guru, tetapi juga untuk para manajer, pimpinan di lingkungan organisasi atau perusahaan apa saja. Maksud dari pepatah ini adalah, seorang pemimpin, hendaknya dapat menjadi contoh yang baik, pemberi semangat, dan mampu memberikan kekuatan bagi bawahannya.

Ing ngarsa sung tuladha – Memimpin dengan member contoh. Menjadi contoh atau role model bukanlah hal yang mudah. Hal ini menuntut seorang pemimpin untuk mengetahui setiap proses kegiatan kerja bawahannya, meski tidak harus pada proses secara rinci, tetapi mengetahui setiap proses kegiatan bawahan, membuat pemimpin mampu mencontohkan bagaimana proses kerja yang baik, pemimpin mampu “nyambung” dengan bawahannya. “nyambung” dengan bawahan, akan mendorong kreatifitas bawahan juga, karena adanya interaksi dan keterbukaan antar pimpinan dan bawahan. Seorang pemimpin hendaknya mampu menjadi teladan bagi para bawahannya.

Ing madya mangun karsa – Di tengah memberi semangat. Di sini, posisi pemimpin dapat dipastikan berada di antara bawahan, bukan di depan, atau di belakang. Pemimpin yang baik setelah memberikan contoh, akan berusaha memahami bawahanya. Dengan mengetahui proses kerja bawahan, pemimpin otomatis akan memahami kesulitan-kesulitan yang dialami bawahan, sehingga pemimpin mampu memberikan solusi yang tepat bagi bawahan. Menyemangati atau mendorong bawahan untuk lebih termotivasi untuk maju bukanlah hal yang dapat dilakukan dengan mudah. Di samping mengerti proses kerja bawahan, pemimpin hendaknya tahu siapa bawahan itu sendiri. Pendekatan pribadi akan sangat berarti bagi setiap bawahan, tetapi tentu saja harus digarisbawahi bahwa pendekatan ini adalah bersifat formal, bukan pendekatan pribadi yang bersifat informal atau tidak berhubungan dengan pencapaian visi dan misi organisasi.

Tut wuri andayani – Di belakang memberi daya dan kekuatan. Untuk memberikan kekuatan kepada bawahan, seorang pemimpin tentu juga secara pribadi harus kuat (skill tentunya, selain kesehatan secara harfiah). Skill yang menjadi kekuatan dari seorang pemimpin dapat diperoleh dari pendidikan secara formal, training, penelitian, buku-buku atau sumber informasi lainnya, dan yang paling utama adalah pengalaman (sesuai dengan kata-kata bijak “pengalaman adalah guru yang terbaik”). Tidak cukup hanya kekuatan (skill), seorang pemimpin harus bisa mentransfer kekuatannya pada bawahannya, sehingga pengetahuan tentang proses kerja dan improvement yang pada awalnya dimiliki hanya seorang saja, menjadi dimiliki semua orang, hal ini dapat memudahkan proses kerja, koordinasi serta handover pada suatu organisasi.

Meskipun begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa pemimpin juga manusia, dan manusia bukanlah mahluk yang sempurna. Oleh sebab itu seorang pemimpin harus terus mengaktualisasi diri, melakukan improvisasi pada skillnya, sehingga dapat memberikan contoh di depan, menjadi penyemangat dari dalam, dan menjadi pemberi kekuatan dari belakang di dalam suatu organisasi.

Dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: