Just another WordPress.com weblog

EFEKTIF TEAM BUILDING

Konsep “team” dan “groups” sering dibincangkan hanya berdasarkan definisi secara harfiah. Secara sederhana Woodcock (Woodcock dalam Stott, 1995) menyatakan bahwa team adalah: “a group of people that share common objectives and who need to work together to achieve them”. Berbagi tujuan yang sama dan bekerja bersama untuk mencapai tujuan tersebut. Tujuan-tujuan ini adalah visi dan misi yang ada di dalam suatu organisasi atau perusahaan. Meski banyak definisi yang menyangkut team, tetap saja penekanannya pada pelaksanaan dan hasil dari team building tersebut. Ada dua contoh kegiatan tim building yang paling popular dilakukan yang akan dijelaskan berikut ini.

Simulasi
Keuntungan dari simulasi adalah bahwa pengamatan pada tim dapat dikendalikan pada waktu yang dibatasi dan pada tempat tertentu. Karakteristik dari teknik ini adalah bahwa kegiatan ini berdasarkan realitas. Kegiatan simulasi mereproduksi kecepatan, tekanan, dan fragmentasi peran dan berhubungan satu sama lain. Simulasi perilaku menghasilkan data, tetapi yang lebih penting adalah sistem yang dibentuk untuk mengumpulkan, menyusun dan menafsirkan data. Di sinilah letak kontribusi yang unik dari simulasi: simulasi menemukan konfigurasi aktual perilaku yang merugikan efektivitas tim; simulasi memungkinkan manajer untuk mengakui kekurangan mereka; menunjukkan pada mereka bagaimana kinerja mereka pada sebuah tim. Dengan demikian, simulasi membantu memperjelas pemahaman tim itu sendiri. Para peserta mengungkapkan perbaikan lateral dalam komunikasi dan kerjasama, lebih banyak kontak langsung antara satu sama lain, hasil yang lebih baik dan respon lebih cepat serta tingkat semangat yang lebih tinggi. Temuan ini harus dibuat dengan jelas, karena dihasilkan dari kegiatan team building yang nyata. Simulasi ini menarik dan berefek besar bagi pengembangan sikap, semangat tim kerja ke arah yang lebih baik, tetapi tetap memerlukan investasi dan energi, sehingga jika melaksanakan kegiatan team building, hendaknya harus dibantu oleh trainer yang kompeten di bidang itu.

Mind Games
Kegiatan game, bagus untuk mengingatkan para karyawan bahwa mereka tidak sedang berada di kantor. Taylor dalam Laff mengatakan, ada suatu kegiatan mind game yang disebut dengan “labirin,”, yang mengharuskan peserta untuk menguasai suatu set dari 81 potongan papan. Untuk mencapai ujung labirin, peserta harus pindah dari satu langkah “positif” ke langkah lain tanpa menginjak yang langkah yang negatif. Proses ini memerlukan kerja sama untuk langkah setiap langkah berikutnya. Masih dalam Laff, Escher menciptakan aktivitas team building dengan kegiatan menyusun sebuah puzzle busa. Setengah dari para peserta diberikan petunjuk teknis, sementara separuh lainnya diberi pengetahuan tentang proses. Teka-teki ini harus diselesaikan dalam 20 menit, dan peserta tidak diperkenankan untuk berbicara satu dengan yang lain. Mereka harus menggunakan gerakan atau tanda-tanda isyarat lainnya. Maksud dari latihan ini adalah untuk belajar mengenali dan mengatasi hambatan komunikasi. Kegiatan ini juga diharapkan tetap didampingi oleh ahli yang kompeten dalam penyelenggaraan kegiatan team building.
Apapun kegiatan yang dipilih organisasi dalam melaksanakan aktivitas team building ini, tetap saja inti dari team building adalah untuk melihat dengan jelas, apa yang ingin organisasi atau perusahaan capai, yang tentu saja akan dapat diraih berkat kerjasama yang kuat dari para personel di dalamnya. Kekuatan tim lebih besar dari kekuatan seorang saja!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: