Just another WordPress.com weblog

Special Librarian Roles in a Business Based Company=Peran Pustakawan Khusus Pada Organisasi Berbasis Bisnis

1. PENDAHULUAN

Informasi  dibutuhkan oleh setiap orang, di mana pun, kapan pun. Tingginya kebutuhan akan informasi sekarang ini mengakibatkan banyaknya fasilitas yang dapat dipergunakan oleh manusia untuk mendapatkan informasi tersebut. Jenis-jenis fasilitas untuk mengakses informasi ini tentunya bervariasi bentuk dan harganya, dari mulai buku, majalah, koran, komputer dengan fasilitas internet di dalamnya, kindle, telepon genggam dan masih banyak lagi fasilitas lainnya.  Meskipun dengan adanya fasilitas ini dan manusia dengan mudahnya mendapatkan informasi yang berprinsip “di mana pun, kapan pun”, tetap saja kesibukan yang menyita waktu mendorongnya untuk mempunyai alat atau sarana untuk mendapatkan informasi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhannya, di mana dia tidak perlu untuk berpikir lagi dalam mencari kata kunci atau mengedit informasi tersebut supaya menjadi informasi yang matang baginya.

Informasi matang yang dimaksudkan di sini adalah informasi yang langsung dapat digunakan untuk menjadi bahan referensi bagi  pengguna untuk memenuhi kebutuhannya baik dalam mengambil keputusan, sebagai pengetahuan atau untuk tujuan lainya dari pengguna. Tingkat kebutuhan informasi matang yang pesat dirasakan juga oleh para penggerak organisasi bisnis, dalam hal ini sebuah organisasi yang bergerak di bidang konsultasi atau sering disebut firma konsultan.  Konsultan yang menjalankan jasa konsultasi seperti ini banyak membutuhkan informasi yang matang dan otentik karena akan digunakan sebagai bahan referensi dalam menangani masalah-masalah yang disampaikan oleh klien mereka. Kesibukan yang menyita waktu para konsultan dan semakin tingginya tingkat kebutuhan akan informasi yang matang mengharuskan organisasi ini mempunyai sebuah fasilitas atau alat yang berperan sebagai produsen informasi matang yang cepat dan tepat bagi mereka.

Fasilitas ini adalah sebuah pusat informasi atau sering disebut perpustakaan sedangkan produsen yang berperan sebagai alat disebut pustakawan. Tidak hanya sekolah dan perguruan tinggi, sebagai tempat yang biasa kita kenal pertama sekali yang mempunyai perpustakaan, akan tetapi kenyataannya organisasi bisnis juga membutuhkan perpustakaan, hal ini dapat kita lihat pada iklan-iklan lowongan kerja sekarang ini,  yang dikeluarkan oleh organisasi bisnis, yang mencantumkan kebutuhan mereka akan seorang pustakawan. Pustakawan ini disebut pustakawan khusus karena menangani kebutuhan informasi yang khusus sesuai dengan bidang jasa organisasi bisnis tempat dia bekerja.

Dilihat dari fungsi pelayanannya perpustakaan dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu perpustakaan yang melayani kebutuhan pengguna umum dan yang melayani kebutuhan pengguna khusus, di mana pembagian ini berbeda dengan pembagian perpustakaan berdasarkan jenis perpustakaan. Meskipun pada perpustakaan umum tidak disebutkan bahwa yang menjalankan kegiatan di tempat tersebut adalah pustakawan umum tetapi hanya disebutkan dengan kata pustakawan, berbeda untuk pustakawan pada perpustakaan khusus, disebut pustakawan khusus. Pustakawan pada suatu perusahaan sering juga mengikutkan jenis perusahaan tempat dia bekerja pada sebutan pustakawan yang disandangnya misalnya, pustakawan yang bekerja pada firma hukum sering disebut dengan pustakawan hukum, pustakawan yang bekerja pada firma konsultan dipanggil pustakawan konsultan, pustakawan yang bekerja pada firma auditor dipanggil pustakawan auditor. Berikutnya dalam tulisan ini, organisasi berbasis bisnis termasuk firma, akan disebut dengan kata perusahaan.

2. PERAN PUSTAKAWAN KHUSUS

Setiap orang dalam perusahaan wajib memberikan dukungan penuh untuk tercapainya visi dan misi perusahaan tersebut, termasuk juga di dalamnya pustakawan khusus yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan. Tentunya peran pustakawan khusus ini berbeda dengan peran pustakawan pada umumnya, dikarenakan dia berada di tempat yang mempunyai karakteristik yang khusus, koleksi, berikut pengguna yang khusus. Apakah di sini peran pustakawan khusus hanya akan menjadi produsen informasi matang? Tentunya tidak, proses metamorfosa seorang pustakawan khusus yang biasa saja atau hanya melakukan rutinitas di perpustakaan, menjadi “the real” pustakawan khusus memunculkan peran-peran yang unik yang akan kita lihat pada paragraph-paragraph berikutnya.

  1. Information breaker

Breaker dalam artian Kamus Merriam-Webster’s adalah “one that breaks” atau dalam Bahasa Indonesia disebut pemecah atau orang yang memecahkan. Untuk makalah ini, Information Breaker artinya adalah seseorang yang mampu memecah informasi. Banyak dari antara pengguna tahu apa yang dia butuhkan, tetapi hanya beberapa dari antara mereka yang mengerti cara mengungkapkan kebutuhan mereka dengan lisan. Di sinilah seorang pustakawan khusus berperan sebagai Information Breaker. Tentu dengan ruang lingkup perpustakaan yang khusus, seorang pustakawan khusus dapat menjalankan peran ini dengan baik dan optimis, karena hanya melayani pengguna yang khusus serta mempunyai koleksi yang khusus. Untuk menjalankan peran ini, sebaiknya juga seorang pustakawan khusus lebih tanggap langsung dengan lingkungan khusus tempat dia berada. Membaca  referensi-referensi yang berhubungan topiknya dengan bidang gerak perusahaan akan memberi nilai tambah bagi kemampuannya Melihat dan memperhatikan memang baik tetapi jika dibarengi dengan inisiatif yang tulus mendalami lingkungan kerja maka akan muncul ide-ide kreatif yang dapat digunakan untuk membantu pengguna. Misalnya pada papan informasi disebutkan bahwa seorang konsultan pada tanggal yang tertera akan melakukan konsultasi ke sebuah perusahaan tambang. Pustakawan khusus di sini harus mengambil inisiatif untuk mencari informasi yang berkaitan langsung dengan perusahaan pertambangan yang bersangkutan dan subjek-subjek yang menyangkut dengan topik pertambangan, sehingga begitu konsultan tersebut datang untuk meminta informasi yang dibutuhkan, dia sudah sedia memberikan informasi. Tentu di sini pustakawan tidak langsung memberikan semua informasi yang sudah dia temukan, sebaiknya ditanyakan dahulu informasi apa yang dibutuhkan oleh konsultan, supaya sebagai pengguna, dia tidak menjadi bingung jika tiba-tiba disuguhi dengan banyaknya informasi. Pertanyaan-pertanyaan seperti: tentang apa? Bagian mananya saja? Kira-kira ruang lingkupnya apa?, dapat membantu untuk mengetahui apa yang dibutuhkan pengguna tersebut. Jika sudah jelas apa yang dibutuhkan oleh konsultan, pustakawan khusus dapat mulai untuk berinisiatif untuk menawarkan informasi lain yang berkaitan dengan subjek pertambangan tersebut. Di samping hal tersebut akan membuat nilai plus pada performance seorang pustakawan khusus, hal ini juga akan sangat berguna bagi pengguna yang kurang asertif.

2.Promorter

Tugas promosi adalah tugas yang sudah lama diemban oleh perpustakaan, tetapi pada kenyataannya kebanyakan perpustakaan kurang melakukan promosi kepada para penggunannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa semakin banyak penggunaan sumberdaya informasi  yang ada di perpustakaan, maka semakin baik performance perpustakaan tersebut, dan sebaliknya jika sumberdaya tersebut jarang disentuh dan dipakai oleh para pengguna maka performance dari pustakawan pada perpustakaan tersebut harus dipertanyakan. Promosi perpustakaan dapat dilakukan dengan beberapa cara, misalnya:

  1. Selalu  mengirimkan informasi melalui email atau mencantumkan pada papan informasi tentang koleksi baru yang sudah selesai diproses dan sudah dapat dipinjam kepada para pengguna. Sebaiknya informasi ini tidak melulu menyebutkan identitas koleksi baru seperti, judul, pengarang, edisi, penerbit, tempat terbit, tahun terbit, subjek, dll., tetapi juga dibarengi dengan satu atau dua paragraph review dari buku tersebut, yang biasanya terdapat pada sampul belakang buku, dari daftar isi (tidak terlalu akurat karean judul tidak selalu menggambarkan isi), atau kata pengantar dari pengarang buku. Jika beberapa sumber review buku tersebut tidak ada, hendaknya pustakawan khusus berinisiatif membaca buku tersebut sekilas dan menuliskan review sendiri. Tindakan ini selain bermanfaat untuk menambah pengetahuan pustakawan, juga akan menghemat waktu melayani pengguna, karena dengan begitu pengguna dikemudian hari dapat memutuskan apakah buku tersebut dia pinjam atau. Selain itu tindakan ini sangat bermanfaat bagi ketersediaan koleksi, karena dengan adanya pengetahuan pengguna tentang review buku tersebut, maka tidak akan terjadi kesalahan dalam peminjaman, sehingga pengguna yang lain yang lebih membutuhkan koleksi tersebut dapat terfasilitasi.
  2. Meluangkan waktu untuk membagikan informasi melalui email atau menuliskan pada papan informasi tentang apa-apa saja yang sedang dilakukan di perpustakaan. Berbagi informasi seperti ini tentunya tidak harus setiap hari, tetapi kemampuan pustakawan khusus dalam menyaring informasi yang perlu dibagi juga dibutuhkan untuk hal ini. Kegiatan yang penting misalnya adanya pameran buku, telah dilakukan penyiangan, perubahan posisi buku pada rak, pengecatan perpustakaan, kegiatan kebersihan menyeluruh pada perpustakaan, perubahan posisi rak di perpustakaan, sedang ada pelabelan rak atau kegiatan-kegiatan yang dirasa  berpengaruh langsung bagi kenyamanan dan keamanan pengguna. Kegiatan pengerakan beberapa buku saja tentu tidak perlu untuk dibagi kepada pengguna. Hal ini berpengaruh positif pada peningkatan performance perpustakaan secara keseluruhan, antisipasi pada ketidaknyamanan pengguna.
  3. Hal ketiga yang perlu dalam tugas promosi ini adalah melakukan presentasi pada pengguna. Kegiatan ini dapat dilakukan pada saat mengadakan rapat bulanan atau pada saat-saat tertentu yang disepakati oleh pustakawan para pengguna. Alangkah baiknya jika pustakawan mengasah kemampuan presentasinya. Presentasi berguna semata-mata bukan untuk tujuan promosi perpustakaan saja, tetapi juga sebagai sarana untuk melaporkan bagaimana pencapaian tugas  yang dilakukan di perpustakaan pada kurun waktu tertentu sesuai dengan kebijaksanaan manajemen perusahaan. Promosi dengan presentasi merupakan kegiatan yang efektif, karena pustakawan dapat berinteraksi langsung dengan pengguna, sehingga disamping tercipta keakraban pustakawan khusus dengan para pengguna, pustakawan juga dapat menerima saran dan kritik dari para pengguna yang berguna bagi pengembangan perpustakaan ke arah yang lebih baik.

Promosi sangat diperlukan bagi keberlangsungan kegiatan perpustakaan dan bagi peningkatan nilai performance pustakawan khusus di hadapan level manajemen. Performance diperlukan untuk menilai tingkat keprofesionalan dan penentuan peningkatan penghasilan setiap orang pada setiap perusahaan.

3.Self Promoter

Masyarakat banyak menganggap bahwa pustakawan hanyalah seorang penjaga buku, berkacamata tebal dan kaku. Sebenarnya, promosi diri sendiri tidak ada dalam kamus pustakawan secara umum, tetapi untuk seorang pustakawan khusus, anggapan tersebut harus disingkirkan jauh-jauh. Sebaliknya seorang pustakawan haruslah dikenal sebagai seroang yang lugas, tegas, intelek, tetapi tetap dapat menjadi seorang yang ramah dan mau mempromosikan diri sendiri. Maksud dari self promoter atau promosi diri sendiri di sini, bukanlah sesuatu yang “narcissism” atau kecintaan pada diri sendiri yang berlebihan, atau mengungkapkan secara oral tentang kelebihan diri sendiri, tetapi lebih kepada pembuktian kemampuan diri secara profesional, sehingga perusahaan menilai dengan sendirinya. Pembuktian keprofesionalan diri dengan melakukan tugas-tugas perpustakaan dengan tulus dan tetap berusaha ramah kepada para pengguna. Selain itu, lebih mengenal perusahaan tempatnya berada membuat pustakawan khusus sehingga lebih nyambung bila sedang mendiskusikan kegiatan di perusahaan  akan memberikan kejutan tersendiri di bagi pihak manajemen sebagai tim penilai di perusahaan. Hal ini juga menunjukkan bahwa kita mau berkembang di perusahaan tersebut, tahu dan merupakan bagian dari team kerja.

4. Debt Collector

Setiap perpustakaan memiliki peraturan perpustakaan dan hal tersebut sudah menjadi suatu keharusan. Tetapi tidak dapat dipungkiri selalu ada juga pelanggaran dari pengguna. Untuk sejenis perusahaan seperti perusahaan konsultan, hal ini sering sekali terjadi, tetapi hal tersebut bukanlah disengaja oleh para konsultan sebagai pengguna, tetapi dikarenakan kesibukan mereka. Untuk ini, pustakawan khusus di sini harus berperan sebagai debt collector. Tentunya debt yang dimaksudkan di sini adalah koleksi-koleksi yang dipinjam oleh para pengguna dalam kegiatan konsultansinya. Pada saat tertentu koleksi yang sama diperlukan oleh beberapa pengguna pada waktu yang bersamaan, akibatnya ada pengguna yang tidak kebagian untuk meminjam. Antisipasi kejadian ini dengan mengadakan beberapa copy koleksi memang sudah dapat menjadi jalan keluar, tetapi ada baiknya koleksi yang selalu mengalami tingkat sirkulasi yang tinggi, tetap mempunyai terbitan asli sebagai pertinggal di perpustakaan. Tetapi jika sudah terjadi, sebuah koleksi diperlukan oleh pengguna dan semua eksemplar termasuk asli sudah terpinjam, seorang pustakawan khusus harus mengambil peran debt collector ini. Ada baiknya peran ini dilakukan sebagai antisipasi kejadian seperti di atas.

5. Volunteer

Sebagai bagian dari suatu perusahaan, semua pribadi dalam satu perusahaan harus dapat bergerak terpadu tanpa ketinggalan seorang pun untuk mencapai visi dan misi perusahaan. Begitu juga dengan seorang pustakawan khusus, harus dapat menyadari bahwa dirinya mesti berkembang sebagaimana perusahaan juga berkembang. Meraih visi dan misi perusahaan tidaklah sesuatu yang mudah dilakukan, untuk itu dibutuhkan kerjasama yang baik dari tiap personil yang bekerja di perusahaan. Melakukan kegiatan di dalam perusahaan termasuk juga sebagai proses dalam pancaian visi dan misi perusahaan. Sebagai bagian dari tim, pustakawan khusus di perusahaan konsultan juga terkadang melakukan perkerjaan yang tidak berhubungan dengan bidangnya di perpustakaan, tentunya pekerjaan tersebut masih dalam ruang lingkup proses pencapaian visi dan misi perusahaan dan tidak menggangu pekerjaan pustakawan di perpustakaan. Pekerjaan tersebut, meski tidak berhubungan dengan perpustakaan, tentu dapat mengembangkan pengetahuan seorang pustakawan yang tidak melulu tahu tentang perpustakaan saja. Hal ini juga dapat meningkatkan kepekaan seorang pustakawan khusus dalam memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh rekan-rekannya yang lain. Meski begitu, pustakawan juga harus tetap fokus pada visi dan misi perpustakaan secara khusus, sehingga tidak terbengkalai karena harus membantu bagian lain di dalam perusahaan yang sama. Kebijaksanaan menjadi modal utama dalam menetapkan prioritas pekerjaan yang akan dilakukan oleh seorang pustakawan.

6. Mentor

Berperan sebagai mentor atau konselor atau guide, sudah menjadi kewajiban penting bagi seorang pustakawan. Kewajiban ini muncul karena ada kelebihan pada pustakawan khusus yang tidak ada pada seorang pengguna dalam mencari informasi. Peran ini didukung oleh kemampuan pustakawan khusus mengembangkan hubungan yang ideal dengan dengan pengguna dan tingkat kepercayaan dari pengguna terhadap jasa pustakawan. Pustakawan tidak hanya dituntut untuk menguasai teknis pengelolaan bahan pustaka, namun yang lebih penting lagi adalah menguasai manajemen hubungan dengan pihak lain. Pustakawan juga seharusnya memperhatikan perubahan dalam perilaku pengguna ketika sudah melibatkan unsur teknologi informasi. Sikap sabar dan kemampuan untuk menyalurkan pengetahuan dalam pencarian informasi baik informasi tercetak maupun informasi yang diperoleh dari Internet atau digital, akan berguna bagi pustakawan khusus dalam menjalankan peran sebagai mentor.

3. PENUTUP

Pada kenyataannya, jika seorang lulusan sarjana ilmu perpustakaan sudah berada di dunia pekerjaan, akan banyak peran-peran baru baik yang berhubungan dengan bidang perpustakaan maupun yang tidak, yang muncul dan harus dia lakukan. Berbagai peran tersebut akan menjadi bekal seorang pustakawan untuk terus meningkatkan performance dalam perusahaan dan  kompetensinya dalam menghadapi persaingan nasional maupun yang global. Inisiatif dan ketulusan dalam melakukan semua peran-peran akan memudahkan pustakawan untuk lebih menikmati semua tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Ada baiknya seorang pustakawan juga mampu menentukan visi dan misi, sehingga lebih jelas peran mana yang menjadi prioritas utama dalam melaksanakan pekerjaaan sehari-hari. Komunikasi yang baik dengan rekan-rekan kerja terutama atasan atau pihak manajemen, baik untuk memudahkan pustakawan untuk lebih leluasa dalam menunjukkan sampai di mana dia telah mencapai target yang telah ditentukan baginya.

Bibliografi

Buletin Perpustakaan Universitas Indonesia (Serat). Membina Hubungan,  Mengubah Citra. Vol. 1 No. 2 Hal. 8. Depok. 2 Desember 2007

Leonhardt, Thomas W. Library Education and the Librarian. Journal of Technicalities. Kansas City. Vol. 19. Kansas, November 1999. Alamat unduhan: http://proquest.umi.com/pqdweb?did=53877830&sid=3&Fmt=3&clientId=45625&RQT=309&VName=PQD. Diunduh 16 Maret 2009, 10.08 WIB

Ragget, Peter. Librarian in the 21st century. Journal of Organisation for Economic Cooperation and Development. The OECD Observer. Paris, Oktober 2006. Alamat unduhan: http://proquest.umi.com/pqdweb?did=1237789071&sid=13&Fmt =3&clientId=45625&RQT=309&VName=PQD. Diunduh 4 Maret 2009, 16:17 WIB

Schachter, Debbie. Special Libraries in Transition: What to do if the Axe is Falling. Journal of Information Outlook. Washingthon, Juli 2007. Alamat unduhan: http://proquest.umi.com/pqdweb?did=1318318671&sid=15&Fmt=3&clientId=45625&RQT=309&VName=PQD. Diunduh 4 Maret 2009, 16.21 WIB

Sulistyo-Basuki. Pengantar Dokumentasi: Mulai dari perkembangan istilah, pemahaman jenis dokumen diikuti dengan pengolahan dokumen, disusul teknologi informasi dan komunikasi sampai dengan jasa pemencaran informasi serta diakhiri dengan pemencaran informasi. Bandung. Rekayasa Sains, 2004.

Comments on: "Special Librarian Roles in a Business Based Company=Peran Pustakawan Khusus Pada Organisasi Berbasis Bisnis" (11)

  1. Pustakawan khusus memang sebuah kegiatan yang unik di samping di tuntut tahu tentang bagaimana mengorganisasi informasi, pustakawan juga di tuntut sedikit banyak tahu tentang substansi subjek yang di garap oleh lembaga induk. Belum lagi bila kita bicara angka kredit (bila Ia pustakawan Di jajaran Pemerintah).

  2. Yoseva Silaen said:

    Thanks for the comment.
    Kebetulan blog ini masih baru, artikel juga baru dan saya juga masih belajar…mudah2an makin banyak artikel saya yang akan saya tulis.
    Saya setuju dengan anda, profesi pustakawan khusus ini memang unik, dituntut untuk flux..Yang bisa underpressure…luluslah jadi pustakawan khusus…

    Saya sedang menulis tentang kompetensi, atau assessment..jika ada masukan…mauliate godang bah..Horas

  3. Kendala yang di hadapi para pustakawan pada perpustakaan khusus, terutama di perpustakaan intstansi pemerintah. adalah kendala pada kebijakan yang berkiatan dengan pendanaan untuk pengembangan perpustakaan itu sendiri.
    ketika Pustakawan sudah memiliki idealisme yang ada di otaknya, dan ingin merealisasikannnya, pendanaan selalu menjadi kendala.
    pengajuan peralatan maupun barang-barang yang menunjang untuk kenyamanan perpustakaan yang diajukan pustakawan, belum tentu (kecil kemungkinan akan di setujui) dan sekalipun di setujui, pustakawan harus berhadapan dengan birokrasi, dimana pengajuan untuk barang maupun jasa, baru akan terealisasi kurang lebih 1 tahun setelah pengajuan.
    “Na lelengan”

  4. Yoseva Silaen said:

    Ada kelemahan ada kelebihan … tiap profesi begitu..tetapi kalau saya yakin, ada niat pasti ada jalan..
    Untuk mengembangkan ide bagi yang bekerja di lingkungan goverment memang agak sulit, sama seperti yang Frandus bilang tuh..tapi kan ada kelebihannya juga bah di dunia per PNS-an…beasiswa yang bejibun..hahaha….
    Ide kita salurin aja teruss….dan keep improve our skill..pastinya bakal ada yang liat…

  5. Salam Kenal..
    semoga pustakawan dapat mengaplikasikan apa yang sudah disampaikan oleh mas Yoseva diatas, sehingga dengan sendirinya personal branding seorang pustakawan akan meningat yang nantinya akan berimbas pada kari.!

  6. Salam kenal,

    Saya telah bekerja cukup lama di Perpustakaan Khusus pelat merah. Saya rasa perpustakaan khusus dapat berkembang dengan baik, bila:
    a.dilaksanakan oleh profesional pustakawan;
    b.organisasi perpustakaan berada langsung di bawah pimpinan instansi/direktur;
    c.memiliki akses dalam kegiatan perencanaan di instansi;
    d.memiliki mental “tahan banting” dan kemandirian yang bertanggung jawab;
    e.memiliki kewenangan tertulis/mandat dari instansi yang jelas dalam mengelola pekerjaannya;
    f.memiliki inisiatif dan kreativitas tinggi dalam melaksanakan fungsinya sebagai unit penunjang program kerja di instansi.

    • Yoseva Silaen said:

      Terima kasih buat komentar2nya.
      1. Pak zulfa dan teman2, saya bukan mas-mas, tetapi saya wanita🙂
      2. Sejauh pengalaman saya di bidang perpustakaan, saya pikir profesi pustakawan khusus adalah profesi yang menantang, dituntut lebih dekat dengan pengguna, dan memang benar2 harus bisa under pressure.

  7. sip… bener emang, agar par calon pustakawan tidak hanya berkutat pada pengolahan buku saja…. hehehe

  8. Salam kenal juga, saya baru 5 tahun bekerja di perpustakaan khusus plat merah juga. saya “sangat merasakan” apa yang diungkapkan bapak/ibu(?) zakiah muhajan.

  9. peran pustakawan khusus 1-6 saat ini tidak hanya untuk perpustakaan plat merah saja, di swasta pun perlu apalagi perguruan tinggi, dan peran tersebut dimiliki oleh pustakawan lumayan kewalahan kalau tidak dibuat enjoy hehehhehe….semangka!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s