Just another WordPress.com weblog

I. Pendahuluan

Berbicara tentang pemasaran atau istilah populernya marketing adalah membicarakan tentang perencanaan strategis di dalam suatu organisasi, begitu juga dengan perpustakaan. Perencanaan yang matang sejak awal akan membuat suatu organisasi dapat bergerak pasti ke depan, meski dengan adanya perubahan (tentunya perencanaan harus mengantisipasi perubahan) yang dapat mempengaruhi proses pencapaian hasil yang sudah ditetapkan, bahkan hasil itu sendiri. Marketing merupakan bagian penting yang dibahas di dalam suatu organisasi, karena kegiatan ini akan berakibat besar pada kelangsungan hidup organisasi tersebut.

Perpustakaan menghadapi pengguna yang berada di lingkungan yang berevolusi menjadi pengguna yang “techno” sebagai akibat dari perkembangan teknologi. Perpustakaan juga menghadapi evolusi perubahan dari keragaman pengetahuuan, format media, kebutuhan yang beragam dari pengguna yang membuat perpustakaan harus menyediakan layanan informasi dalam berbagai cara. Untuk tetap diberdayakan para pengguna sebagai pusat informasi, sudah barang tentu perpustakaan harus melakukan marketing tentang layanan, koleksi, kemudahan, dll., yang mampu ditawarkan olehnya. Senada dengan yang dipaparkan oleh Block (2001) bahwa kunci kesalahan pustakawan dalam marketing adalah menunggu pengguna untuk datang daripada menyediakan pada mereka sebelum mereka membutuhkan informasi tersebut. Pada kenyataannya, perpustakaan sering berpikir bahwa para pengguna akan tetap datang meskipun tidak pernah dilakukan marketing, dengan kata lain, pengguna selalu membutuhkan perpustakaan. Padahal, perpustakaan tidak boleh menutup mata untuk apa yang terjadi di lingkungan tempat dia berada. Perkembangan media teknologi informasi yang menawarkan segala kemudahannya, kecepatan akses informasi lewat internet, harga koneksi internet yang semakin murah, dll.

Persaingan dalam menyediakan informasi harus dianggap penting oleh perpustakaan. Untuk itu perpustakaan harus giat melakukan marketing. Marketing perpustakaan bukan sekedar menawarkan layanan yang ada di perpustakaan, tetapi lebih menekankan pada produk apa yang akan “dijual” dan kepada siapa produk tersebut ditujukan (Block, 2001). Block menambahkan bahwa marketing adalah tugas yang tidak gampang bagi seorang pustakawan, khususnya tentang bagaimana meyakinkan pengguna bahwa mereka berada di pusat informasi.

II. Marketing Perpustakaan

Marketing sering dikaitkan dengan upaya-upaya yang dilakukan oleh suatu institusi atau organisasi melalui orang-orang untuk menjual sesuatu, membujuk orang untuk membeli produk (barang atau jasa) yang mereka hasilkan, tidak peduli apakah orang-orang yang dibujuk tersebut butuh atau tidak terhadap apa yang mereka jual. Menurut Koontz dan Rockwood (2001), “marketing is much more than this (selling goods or persuading people to buy). It is a systematic tried and true approach that relies heavily on designing the service or product in terms of the consumers’ needs and desires, with consumers’ satisfaction as its goal.” Dari pengertian ini, dapat dipahami bahwa marketing bukan suatu aktifitas yang asal-asalan dilakukan, tetapi sistematik (ada aturan), dan ditujukan untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen, di mana tujuannya adalah tercapainya kepuasan konsumen.

Hampir senada dengan definisi tersebut, Spalding dan Wang (2006) menyatakan “by using marketing principles and techniques, they (librarians) can understand better their users’ needs, justify funding, communicate more effectively with a variety of external audiences, and achieve greater efficiency and optimal results in delivering products and services that meet the identified needs of their clients. Prinsip-prinsip dan teknik marketing di sini tentunya di adaptasi dari ilmu manajemen, yaitu manajemen pemasaran. Pendapat Spalding dan Wang ini juga mengarah pada pemenuhan kebutuhan pengunanya, komunikasi yang efektif pada komunitas di luar perpustakaan secara efektif, tetapi ditambahkan juga dengan keseimbangan pendanaan.

Pendanaan mengambil tempat penting dalam menjalankan kegiatan apapun di dalam suatu organisasi. Di bidang perpustakaan sendiri, sebagai pranata yang non-profit, tentu menghadapi problema keuangan. Perpustakaan berhadapan dengan kenaikan costs dan kurangnya budget dikarenakan perkembangan teknologi informasi, juga iklim ekonomi yang naik turun. Hal ini harus dicermati sebagai peluang oleh perpustakaan. Dengan memenuhi kebutuhan dan keinginan pengguna secara efektif dan efisien, perpustakaan akan mengambil tempat di hati komunitas, hal ini akan berakibat positif bagi peningkatan jumlah pengguna, menaikkan performance perpustakaan, dan mengarahkan pandangan para pemberi dana ke arah perpustakaan.

Baldock menyatakan bahwa kunci ke arah marketing yang berhasil, dimulai dari analisa, penilaian dan pemuasan kebutuhan pengguna dengan mencocokkan pada kemampuan pusktakawan (Baldock, 1993). Bradford juga menegaskan bahwa pendekatan yang paling penting dalam marketing perpustakaan adalah fokus untuk mengumpulkan informasi tentang komunitas di mana perpustakaan berada. Hal ini jelas untuk memahami kebutuhan komunitas sehingga perpustakaan tahu layanan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh penggunanya. Para pustakawan yang bekerja di perpustakaan tidak boleh lagi berprinsip bahwa pengguna pasti datang meminta bantuan informasi dari mereka, konsep yang salah ini harus diperbaiki dengan sikap aware terhadap kebutuhan pengguna tanpa harus diminta dulu, ada inisiatif untuk mau tahu apa yang terjadi di lingkungan perpustakaan.

Apa yang sedang terjadi dan bergulir di komunitas tempat perpustakaan berada, sangat penting untuk diketahui oleh perpustakaan. Media informasi yang berkembang, isu-isu politik, trend pergaulan, topik yang in, dan lain-lain hal yang berkembang dalam masyarakat, tanpa mengacuhkan juga hal-hal yang belum berkembang dan perlu dikembangkan dalam komunitas. Pendekatan ini penting juga untuk tetap menjaga image perpustakaan tetap baik, bahkan lebih baik lagi, perpustakaan dapat membantu pengguna seefektif mungkin serta menaikkan jumlah pengguna.

III. Marketing dalam Perencanaan Strategis

Sebaiknya sebelum kegiatan marketing dimasukkan di dalam perencanaan strategis, perpustakaan melakukan analisa SWOT. Analisis ini dimaksudkan agar jelas dan tepat apa yang dapat diperbaiki, dilayankan, dilakukan oleh perpustakaan. Perencanaan strategis ini dirancang oleh manajemen perpustakaan dan dikomunikasikan dengan efektif kepada seluruh jajaran pustakawan sehingga terdapat pemahaman yang sama terhadap apa-apa saja yang akan dicapai oleh perpustakaan dengan partisipasi seluruh pustakawan tanpa terkecuali. Tidak hanya dikomunikasikan, tetapi manajemen perpustakaan juga perlu mengcourage semua pustakawan untuk memberikan ide-ide yang dapat diimplementasikan nantinya dalam menjalankan perencanaan strategis ini, termasuklah di dalamnya marketing. Pemahaman yang sama dan kegiatan menampung ide-ide dari semua orang yang ada di dalam perpustakaan ini penting nantinya agar semua orang yang ada di dalam perpustakaan, merasa terlibat secara moral.

Mengenali diri sendiri dengan SWOT akan membuka pikiran perpustakaan dalam mengetahui apa yang menjadi kekuatannya. Sumberdaya apa yang ada di dalam perpustakaan, apa tanggung jawab marketing yang akan diberikan pada setiap pustakawan di dalam perpustakaan, apa saja layanan yang ada yang akan dipasarkan di dalam perpustakaan, koleksi yang ada di perpustakaan. Perpustakaan juga akan dapat mengenali segmen pasar yang dihadapi. Pengenalan segmen pasar ini berakibat layanan informasi dapat dideliver tepat pada sasaran secara efisien dan efektif. Perpustakaan juga tidak boleh meremehkan setiap segmen pasar. Setiap segmen pasar diperlakukan sebagai pengguna yang actual dan potensial (Koontz and Roockwood, 2001).

Selanjutnya, mengetahui kelemahan sendiri adalah hal penting untuk memunculkan peluang. Kelemahan harus dipandang dengan sikap optimisme bahwa hal tersebut dapat dieliminate dengan memunculkan peluang. Peluang muncul dari data kelemahan perpustakaan, oleh sebab itu agar peluang yang ditangkap akurat, tentu data kelemahan perpustakaan juga harus tepat, sehingga penanganan dapat dilakukan dengan tepat sasaran.

Sasaran kegiatan marketing ini adalah penguna. Keiser dalam Nkanga (2002) menekankan keharusan menetapkan kebutuhan informasi pengguna dengan pendekatan layanan yang prima, dan menurut Nkanga, pendekatan ini baik untuk layanan karena perencanaan berorientasi pada pengguna dapat dilakukan, dengan kata lain, pendekatan ini adalah pendekatan proaktif. Untuk memuaskan kebutuhan pengguna, menurut Rustomji dan Vieira (1993) dapat dilakukan dengan komposisi marketing berikut, yang juga disebut dengan 4P Marketing, yaitu:
1. Product Planning atau perencanaan produk
2. Pricing atau penetapan harga
3. Physical Distribution atau distribusi fisik
4. Promotion and Advertising atau promosi dan iklan

IV Aplikasi Komposisi Marketing di Perpustakaan

1. Product Planning atau perencanaan produk
Untuk merencanakan produk ini menurut Rustomji dan Viera ada 6 pertanyaan penting sebelum melakukan perencanaan produk, pada artikel ini, keenam pertanyaan ini sudah diadaptasikan dengan kebutuhan perpustakaan, dengan kata lain disesuaikan dengan istilah yang ada di perpustakaan. Pertanyaan tersebut adalah:
a. Apa informasi yang pengguna butuhkan?
b. Mengapa pengguna membutuhkan informasi tersebut?
c. Siapa saja yang membutuhkan informasi tersebut?
d. Bagaimana cara pengguna mendapatkan informasi tersebut?
e. Apa kontribusi yang pengguna keluarkan untuk mendapatkan informasi tersebut?
f. Di mana pengguna mendapatkan informasi tersebut?

2. Pricing atau penetapan harga
Komposisi marketing yang ini dulunya memang dilema bagi sebuah perpustakaan, karena memang perpustakaan diadakan sebagai pranata sosial, alias nonprofit. Tetapi sekarang ini, tentunya perpustakaan harus berpikir ulang, disebabkan perpustakaan juga mau tak mau terkena imbas pergolakan ekonomi yang cukup signifikan. Harga materi perpustakaan naik. Hendaknya sejak awal perpustakaan sudah menetapkan anggaran tahunan dengan tingkat inflasi yang juga sudah diperkirakan, sehingga jika ada kenaikan harga tetap paling tidak bisa ditoleransi dengan perkiraan anggaran pada perencanan awal. Di samping itu, jika perpustakaan sudah mengetahui produk (materi perpustakaan) mana yang akan dilayankan di perpustakaan, penetapan anggaran akan lebih mudah dilakukan.
Untuk perpustakaan perguruan tinggi dan perpustakaan sekolah, anggaran untuk perpustakaan dapat dimasukkan di dalam dana pendidikan mahasiswa dan murid sekolah. Penetapan besaran dana yang dicover oleh para mahasiswa atau murid, hendaknya juga ditentukan secara konsisten, dan pada tahun berjalannya anggaran, perpustakaan harus mampu untuk mendayagunakan anggaran yang sudah ditetapkan tersebut.

3. Physical Distribution atau distribusi fisik
Materi yang ada di dalam perpustakaan tentunya akan dipergunakan oleh para pengguna perpustakaan. Istilah distribusi fisik di sini dapat diartikan sebagai langkah perpustakaan untuk menyalurkan materi perpustakaan kepada para penggunanya. Di samping para pengguna yang dapat berada di perpustakaan dan menggunakan materi perpustakaan di sana, pustakawan juga perlu memikirkan para pengguna yang berada jauh dalam satuan jarak. Pustakawan harus memperhitungkan bagaimana menyampaikan informasi ke pada para pengguna yang tinggal jauh dari perpustakaan. Materi perpustakaan yang sedia dalam bentuk file komputer misalnya e-book, sudah barang tentu dapat dikirimkan melalui email atau pustakawan memberikan link pada situs penyimpanan file pada jaringan internet, meski begitu, pustakawan harus juga memikirkan para pengguna (di awal sudah dikatakan bahwa semua pengguna harus dianggap sebagai pengguna potensial, tanpa terkecuali), yang berada jauh dan tidak ada akses ke jaringan internet. Keadaan seperti itu dapat terbantu oleh adanya perpustakaan keliling.

4. Promotion and Advertising atau promosi dan iklan
Komunikasi mempunyai peran penting dalam komposisi marketing nomor empat ini. Promosi dan periklanan merupakan bagian dari komunikasi. Keefektifan marketing tergantung pada komunikasi yang efektif. Apa yang dipasarkan oleh perpustakaan tidak mungkin tersampaikan kepada pengguna tanpa adanya komunikasi. Jika komunikasi tidak terlaksana dengan efektif, maka dipastikan perpustakaan akan dikunjungi dan materi perpustakaan hanya digunakan oleh segelintir orang, di mana hal ini akan berakibat fatal bagi kelangsungan hidup perpustakaan tersebut. Menurut Rustomiji dan Vieira (1993), dalam melakukan promosi dan pengiklanan ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu: pesan apa yang akan disampaikan oleh perpustakaan kepada penggunanya; komunikasi yang sering dipakai oleh pengguna; jenis-jenis iklan yang dapat digunakan; agen iklan; keuntungan dan kerugian dalam menggunakan iklan. Penulis menambahkan lagi, bahwa penting bagi pustakawan untuk ikut dalam training marketing dan komunikasi dalam rangka meningkatkan kemampuannya.

Apapun memang program yang ada di perpustakaan, tujuan utamanya adalah untuk memenuhi kebutuhan informasi para pengguna, terlebih dalam marketing ini, di samping itu peran serta para pustakawan yang berada di suatu perpustakaan, merupakan asset penting dalam marketing. Kerjasama yang baik antara pustakawan yang menjabat sebagai manajemen perpustakaan dengan para pustakawan dari berbagai level jabatan di dalam perpustakaan juga mempunyai andil besar di dalam marketing. Marketing merupakan jalur penting dalam mempererat hubungan perpustakaan dengan para penggunanya. YS.240210

Bacaan:
Rustomji, M.K and Vieira, Walter. 1993. Marketing: Key to Business Success Today. IBH Publisher. Bombay.
Christine M. Koontz and Persis E. Rockwood. 2001. Developing Performance Measures Within a Marketing Frame of Reference. New Library World. London. URL: http://proquest.umi.com/pqdweb?did=248029991&sid=1&Fmt=4&clientId=45625&RQT=309&VName=PQD. Diakses 17 February 2010. Jam 13.30 WIB
Nkanga, Nndonia Adonis. 2002. Marketing Information Service in Botswana: an Exploratory Study of Selected Information Providing Institutions in Gaborone. Library. Management. Bradford. URL: http://proquest.umi.com/pqdweb?did=259567371&sid=3&Fmt=4&clientId=45625&RQT=309&VName=PQD. Diakses 17 Februari 2010. Jam 13.33 WIB
Block, Marylanine. 2001. The Secret of Library Marketing: Make Yourself Indispensable. American Libraries. Chicago. URL: http://proquest.umi.com/pqdweb?did=80244948&sid=6&Fmt=4&clientId=45625&RQT=309&VName=PQD. Diakses 17 Februari 2010. Jam 13.35 WIB
Spalding, Helen H. and Wang, Jian. 2006. The Challenges and Opportunities of Marketing Academic Libraries in the USA. Library Management. Bradford. URL: http://proquest.umi.com/pqdweb?did=1127945401&sid=13&Fmt=3&clientId=45625&RQT=309&VName=PQD. Diakses 17 Februari 2010. Jam 13.48 WIB
Baldock Carole. 1993. Marketing Libraries: a Survival Course? Library Management. Bradford. URL: http://proquest.umi.com/pqdweb?did=1195506&sid=1&Fmt=3&clientld=45625&RQT=309&VName=PQD. Diakses 17 Februari 2010. Jam 13.35 WIB
Gambles, Brian and Schuster, Heike. 2003. The Changing image of Birmingham libraries: Marketing Strategy into Action. New Library World. URL: http://proquest.umi.com/pqdweb?did=452074761&sid=16&Fmt=4&clientId=45625&RQT=309&VName=PQD. Diakses 17 Februari 2010. Jam 13.37 WIB

Comments on: "Marketing Perpustakaan (Library Marketing)" (7)

  1. tugas2 yg laen skalian kak, hehehe…..
    makasi ka2k koe…
    jd da referensi lg neh… ^_^

  2. thanks utk soal library marketing, jadi inget waktu bikin thesis…

  3. Yoseva Silaen said:

    Iya nik Kak Susan..bantu2 kasi ide yah ke yos..hahahahha..thanks bgt…

  4. bagussss,,,!!! mau cari buku tentang perputakaan dimana ya ???

  5. fadhli IMPUS 07 said:

    bang mohon izin kopas ya buat proposal penelitian saya ttg marketing..makasih bang.

    • Yoseva Silaen said:

      Monggo..silahken….tinggal ditulis referensinya saja yah. btw saya bukan abang2 saya kakak2. :-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 118 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: